Posted by: islambertobat | May 1, 2011

Orang-orang Samaria dan Musa – Ataukah Muhammad Yang Tersandung Blunder?


Diposkan oleh Ali Sina pada tanggal 29 November 2010

Quran memuat banyak kesalahan. Salah satunya adalah yang berikut ini.

Dalam Alkitab (Keluaran 32) ada kisah mengenai (lihat: about) orang-orang Israel yang menyembah patung anak lembu emas ketika Musa sedang berada di atas Gunung Sinai untuk menerima Sepuluh Perintah Tuhan. Sekembalinya Musa dari sana ia sangat marah, dan memerintahkan agar “kamu masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalanlah kian ke mari melalui perkemahan itu dari pintu gerbang ke pintu gerbang, dan biarlah masing-masing membunuh saudaranya dan temannya dan tetangganya” (Keluaran 32:27). Dalam kisah ini, penjahatnya adalah orang-orang Israel dan Harun saudara Musa yang membiarkan dirinya dipengaruhi orang Israel. Insiden ini diceritakan juga dalam Al-Quran (namun membawa masalah).

Allah berfirman: “Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri (Samaria)… Kemudian Musa kembali…, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.” … Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” …– Quran 20:85-88, 95.

Menurut versi Quran, penjahatnya adalah orang-orang Samaria yang menyesatkan orang Yahudi sehingga mereka menyembah patung anak lembu emas tersebut. Tetapi menurut kisah aslinya dalam Alkitab, orang Samaria sama sekali tidak ada. Jika hal ini ditanyakan, orang Muslim akan mengklaim bahwa Alkitab telah dipalsukan. Namun demikian, pada jaman Musa, Samaria belum eksis dan tidak ada seorangpun yang disebut orang Samaria!

Berdasarkan 1 Raja-raja 16:24 Samaria adalah sebuah bukit milik Shemer yang dibeli oleh Raja Omri dimana kemudian ia mendirikan kota Samaria pada sekitar 870 SM. Orang-orang Samaria adalah satu suku bangsa tersendiri yang baru muncul setelah pembuangan Kerajaan Utara Israel dan pendudukan kembali wilayah di bawah pemerintahan Raja Sargon II setelah 722 SM.

Musa hidup pada sekitar 1400 SM. Tepatnya, lima hingga tujuh abad sebelum ada orang yang disebut sebagai orang Samaria (Sameri). Oleh karena itu, penjelasan Quran bahwa orang Samaria menyebabkan orang Yahudi menyembah patung anak lembu emas adalah kesalahan yang konyol. Pada jaman Musa, Samaria belum ada dan tidak seorangpun dapat disebut sebagai penduduk kota yang belum ada.

Kita tahu bahwa Muhammad bukanlah orang yang berpendidikan. Ia mendengar kisah-kisah Alkitab melalui penuturan orang-orang yang suka mendongeng, dan jika melihat kesalahannya itu maka kita dapat mengatakan bahwa Muhammad sendiri pun belum pernah membaca Alkitab. Jadi darimana ia mendapat gagasan bahwa orang Samaria menyesatkan orang Israel kepada penyembahan berhala?

Jawaban untuk kekacauan ini dapat ditemukan dalam  kisah lainnya yang mirip mengenai penyembahan kepada anak lembu yang diceritakan dalam 1 Raja-raja 12:26-33. Episode ini terjadi dalam masa Yerobeam. Pada masa inilah orang Yahudi terpecah menjadi dua kerajaan, Kerajaan Utara yaitu Israel dan Kerajaan Selatan  yaitu Yehuda, dengan Yerusalem sebagai pusat peribadatan bagi semua orang Yahudi di tanah Yehuda. Kota-kota suci menarik para peziarah, menghidupkan perdagangan dan menghasilkan pemasukan. Yerobeam yang adalah raja Israel berpendapat, tidak adanya sebuah tempat suci untuk beribadah dalam kerajaannya akan memperlemah posisinya. Ia memutuskan untuk membangun sebuah tempat ibadah di Samaria, ibukota Kerajaan Utara, dan menghiasnya dengan dua patung anak lembu  emas untuk menyaingi Yerusalem sebagai pusat peribadatan.

Para sarjana Alkitab, seperti Richard Elliot Friedman, meyakini bahwa kisah pertama kali mengenai penyembahan anak lembu emas oleh orang Yahudi pada jaman Musa yang dijadikan acuan oleh Quran, sebenarnya tidak pernah terjadi. Friedman percaya bahwa kisah ini dikarang oleh para penyalin Alkitab, para imam besar dan para pengurus Bait Suci di Yerusalem, sekitar tahun 700 SM untuk mendiskreditkan Yerobeam dan tempat ibadahnya di Kerajaan Utara. Mereka menciptakan kisah Musa dan anak lembu emas, mengklaim bahwa hal itu mendatangkan murka dan penghukuman Tuhan pada jaman Musa. Ini tentunya mengirimkan pesan yang kuat kepada orang Yahudi bahwa tempat ibadah yang dibangun oleh Yerobeam tidak diterima oleh Tuhan. Kemungkinan besar, anak-anak lembu yang menghiasi tempat ibadah Israel hanyalah bersifat simbolis dan tidak dimaksudkan untuk disembah. Namun kisah karangan mengenai orang Yahudi yang menyembah anak lembu emas pada jaman Musa yang membangkitkan murka Tuhan, telah mencapai tujuannya. Adanya tempat ibadah yang baru di Utara tidak hanya menyepelekan pentingnya Yerusalem sebagai satu-satunya pusat religius bagi semua orang Yahudi, tetapi juga telah mengakibatkan terjadinya pemisahan religius bagi suatu bangsa yang telah terpecah secara politik.

Hosea menggemakan ketidaksetujuannya terhadap tempat ibadah di Utara dengan kalimat-kalimat berikut:

Anak lembumu telah menolakmu, hai Samaria! Murka-Ku menyala terhadap mereka! Sampai kapan mereka tidak mampu hidup tanpa salah? Sebab alasannya pun dari Israel: para seniman telah membuatnya. Tetapi itu bukan Elohim! Maka anak lembu Samaria itu akan menjadi pecahan berkeping-keping. — Hosea 8:5-6

Ini adalah sebuah peringatan terhadap orang Yahudi pada tahun 700 SM yang hidup di Samaria. Ayat ini tidak berkaitan dengan kisah Musa dan anak lembu emas. Nampaknya Muhammad telah mendengar kedua kisah ini. Tetapi ia mencampuradukkan keduanya dan menempatkan orang Samaria ke dalam konteks (dan waktu) yang salah. Quran melanjutkan:

Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)” (Qur’an 20:97)

Menarik bila memperhatikan bahwa dalam ayat ini Quran mengacu kepada fakta bahwa orang Samaria dipandang sebagai kaum yang tidak boleh disentuh (janganlah menyentuh aku). Kenyataannya, orang Israel justru memandang rendah orang Samaria dan menganggap mereka “tidak boleh disentuh” (Najis) oleh karena mereka menyembah berhala. Namun demikian, stigma ini tidak diberikan oleh Musa kepada mereka. Mereka disebut demikian oleh orang Yahudi berabad-abad kemudian.

Ini adalah sebuah bukti lainnya bahwa pengetahuan Muhammad mengenai Alkitab adalah pengetahuan dari “kelas dua” dan berdasarkan apa kata orang. Seandainya ia membaca Alkitab, ia tidak akan melakukan kesalahan konyol seperti ini.

Judul Dalam Bahasa Inggris: Samaritans and Moses or Muhammad’s Blunder?

About these ads

Responses

  1. jangan menyalahkan kitab agama lain….siapa tahu yg kamu salahkan itu malah menjadi yang benar…..muhammad itu ga bs baca tulis,…apa mungkin muhammad bisa mengarang cerita seperti itu……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 229 other followers

%d bloggers like this: